Upaya pemulihan pascabencana banjir terus dilakukan di Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan. Pada 17 Desember 2025, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Aufa Royhan berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melaksanakan aksi tanggap darurat bencana bagi masyarakat terdampak.
Kegiatan kemanusiaan tersebut mencakup penyaluran bantuan logistik, pelayanan kesehatan, dukungan sanitasi air bersih, serta pendampingan psikologis melalui program trauma healing bagi anak-anak. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemulihan menyeluruh, baik secara fisik maupun mental, bagi warga yang terdampak bencana alam.
Kepala Desa Tandihat, Ranto Panjang Sipahutar, menyampaikan bahwa pendampingan psikologis bagi anak-anak korban banjir masih terus berlangsung hingga akhir Desember 2025. Hal tersebut disampaikannya kepada awak media pada Rabu, 31 Desember 2025.
“Universitas Aufa Royhan berperan aktif dalam membuka posko kemanusiaan Siaga Bencana di desa kami. Sejak 17 Desember hingga hari ini, tim masih konsisten melakukan pendampingan psikologis melalui kegiatan trauma healing untuk anak-anak terdampak bencana,” ujar Ranto Panjang Sipahutar.
Ia juga menjelaskan bahwa sekitar 187 kepala keluarga (KK) di Desa Tandihat menjadi sasaran utama kegiatan kemanusiaan tersebut. Bantuan logistik difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, sementara layanan kesehatan diarahkan pada pemeriksaan kesehatan umum dan penanganan keluhan kesehatan yang banyak muncul setelah bencana.
Ketua tim kegiatan dari LPPM Universitas Aufa Royhan, Dr. Ns. Adi Antoni, M.Kep., menegaskan bahwa program bantuan tidak hanya berorientasi pada pemulihan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan kondisi psikologis masyarakat.
“Selain bantuan logistik dan layanan kesehatan, kami juga memberikan dukungan sanitasi air bersih sebagai langkah pencegahan penyakit. Anak-anak menjadi perhatian khusus melalui kegiatan trauma healing agar mereka kembali merasa aman dan nyaman pascabencana,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan trauma healing, anak-anak diajak mengikuti berbagai kegiatan edukatif dan permainan yang bersifat rekreatif. Pendekatan ini bertujuan untuk membantu mengurangi rasa takut, kecemasan, serta tekanan psikologis akibat pengalaman bencana yang mereka alami.
Pendampingan psikologis tersebut diharapkan mampu mempercepat pemulihan kondisi emosional anak-anak sekaligus mendukung proses tumbuh kembang mereka secara optimal. Selain itu, tim juga memberikan edukasi singkat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada masyarakat, terutama dalam situasi darurat pascabencana yang rawan terhadap penyakit berbasis lingkungan dan air.
Masyarakat Desa Tandihat menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan bantuan yang diberikan oleh tim tanggap darurat. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu warga yang masih mengalami keterbatasan akses terhadap kebutuhan pokok, layanan kesehatan, dan air bersih.
Melalui kegiatan ini, LPPM Universitas Aufa Royhan bersama Ditjen Risbang Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya dalam mendukung penanggulangan bencana berbasis kemanusiaan, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat, khususnya di wilayah yang terdampak bencana alam.




